Minggu, 18 November 2018

Santri Generasi Anti Radikalisme




Indonesia merupakan negeri yang kaya raya. Negeri yang kaya akan budaya dan adat istiadatnya.Negeri ini tersusun dari berbagai macam perbedaan yang bersatu padu menjadi satu. Perbedaan itu akan sangat terlihat indah apabila rakyat selalu menanamkan rasa toleransi dan tenggang rasa dalam diri mereka masing-masing. Namun harapan demi harapan yang terangkai indah di benak para pembela nusantara untuk mengintegrasikan rakyat Indonesia terlihat sangat sulit dicapai. Tanjakan-tanjakan terjal dan kerikil-kerikil tajam mulai bermunculan mengganggu jalannya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Banyak manusia-manusia yang tidak  menghargai perbedaan di negeri ini. Mereka melakukan tindak  kriminal dengan mengatasnamakan agama sebagai senjata. Mereka berbondong-bondong untuk mendirikan khilafah islamiyah di Nusantara. Mereka tidak peduli dengan nasib para veteran dan para pejuang kemerdekaan. Bagi mereka Indonesia akan lebih indah jika semua rakyatnya menganut satu agama, mereka hancurkan golongan-golongan yang tidak sepaham dengan mereka. Mereka pikir hanya merekalah yang paling benar, mereka pikir  yang mereka lakukan adalah dakwah fi sabilillah, mereka pikir yang mereka lakukan tidak pernah salah. Orang-orang yang seperti itu telah terjerat paham radikalisme, paham yang menutup mata hati mereka, paham yang menuntut mereka untuk menjadi manusia yang apatis dan egois.

Di era zaman digital seperti saat ini paham-paham radikalisme akan sangat mudah tersebar melalui sosial media. Orang-orang yang menganut paham ini akan selalu gencar mencari mangsa empuk untuk dijadikan sasarannya. Untuk menlanjutkan perjalanannya demi tercwujudnya  keinginan buta mereka. Sasaran-sasaran yang  paling  banyak  dicari oleh para penganut paham ini adalah  kalangan para remaja, karena masa remaja adalah masa pencarian jati diri yang memungkinkan para remaja ini mudah sekali terpengaruh dengan bisikan-bisikan halus mereka.

 Remaja yang tidak memiliki landasan kuat dalam dirinya akan mudah terombang-ambing terbawa derasnya arus kehidupan yang akan menghantarkannya pada ketersesatan. Namun sebaliknya, remaja yang memiliki landasan kuat dalam dirinya tidak akan mudah goyah walaupun tubuhnya digoncangkan sekalipun. Remaja yang memiliki akidah yang kuat itulah remaja yang tidak akan mudah terbawa arus paham radikalisme.
baca juga: full day school memajukan atau menghancurkan?
Bagaimana cara membangun pondasi yang kuat untuk membentengi diri dari paham radikalisme? Salah satu solusinya adalah memperdalam ilmu di pondok pesantren. Ya... para remaja yang tidak mudah terombang-ambing arus tadi adalah para santri. Santri-santri nusantara yang dibekali ilmu-ilmu al quran dan hadist di pondok pesantren tercinta.

Santri itulah sebutan bagi mereka yang sedang mendalami ilmu di pondok pesantren. Pondok pesantren tempat mereka belajar akidah islam, akhlak, fikih, dan ilmu-ilmu lain yang dapat menjadi tameng bagi diri mereka dalam menangkal paham-paham radikalisme yang merajalela di luar sana. Di pondok pesantren para santri ini juga diajarkan bagaimana caranya menghargai orang lain, menghormati yang lebih tua dan juga menyanyangi yang lebih muda, karena mereka hidup bersama dalam satu lingkup asrama.

Dari situ mereka juga sudah dilatih untuk bisa hidup bermasyarakat, dengan begitu  secara tidak langsung mereka telah diajarkan bagaimana caranya menghargai perbedaan yang ada di sekitar mereka, mereka diajarkan agar selalu berbagi terhadap sesamanya dan diajarkan untuk saling tolong menolong terhadap saudaranya. Dengan begitu sangat jelas sekali bahwa kaum-kaum radikal dan para teroris tersebut pasti tidak pernah mengenyam pendidikan yang bernama pondok pesantren. Karena di pondok pesantren para santri diajarkan bagaimana caranya bersikap tidak egois dan apatis terhadap sekelilingnya. Padahal para penganut paham radikalisme dan para teroris sangat mencerminkan sikap apatis dan egois.

  Kaum-kaum radikal dan para teroris adalah orang-orang awam yang hanya bisa mengandalkan kekuatan teknologi untuk mempelajari ilmu agama, mereka menafsirkan sendiri apa yang mereka pelajari tanpa bantuan seorang guru, sehingga mereka mendapatkan pemahaman yang salah. Pemahaman itu disebarluaskan di sosial media dan dibaca oleh orang-orang yang juga masih awam. Akibatnya orang-orang yang masih awam tadi terpengaruh terhadap pemahaman itu dan seterusnya menyebar keseluruh bumi nusantara.


 Para penganut paham radikalisme dan para teroris biasanya hanya memahami ayat-ayat al quran secara setengah-setengah, mereka hanya memahami artinya secara sekilas saja dan  tidak mendalam dalam mempelajarinya. Berbeda dengan para santri yang mempelajari al quran beserta dengan terjemah dan tafsirnya. Para santri sangat paham terhadap isi al quran dan tidak akan mudah menjudge sesuatu dengan tanggapan negatif. Semisal, mudah mengkafir-kafirkan orang lain yang tidak sepaham dengannya.

Penganut paham radikalisme dan para teroris memiliki jalan pemikiran yang sempit dan terbatas. Ibaratnya mereka hanya mengintip  suatu pokok permasalahan hanya melalui sebuah celah  kecil yang  jika permasalahan itu dilihat dari celah tersebut terlihat sangat sempit berbeda dengan pemikiran orang-orang  yang  sudah mendalami agama terkhusus para santri, mereka melihat suatu pokok permasalah melalui lubang yang besar, pemikiran mereka luas dan mereka juga tidak gegabah dalam mengambil keputusan.

Seorang santri juga merupakan pribadi yang supel dan sederhana, berbanding terbalik dengan kebanyakan sikap penganut paham radikalisme dan para teroris yang cenderung tertutup dan tidak pandai bergaul. Para santri terbiasa hidup bersama sehingga membentuk karakter mereka menjadi manusia yang mudah berbaur di masyarakat. Di pandangan orang –orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren, santri adalah pribadi yang kuno, culun, dan tidak intelektualis, namun itu adalah pandangan yang sangat salah.

Santri adalah agen gerakan perubahan yang menggabungkan antara cinta agama dan tanah air tanpa harus menghancurkan perdamaian beragama di Bumi Nusantara. Karena bagi santri cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Tanpa negeri yang damai umat islam tidak bisa beribadah dengan tenang, tanpa negeri yang aman umat islam tidak bisa beribadah dengan khusyuk, karena bagi santri perbedaan bukan suatu permasalahan yang harus dimusnahkan, namun perbedan adalah suatu anugerah yang harus dilestarikan, untuk membentuk Indonesia yang aman,tentram dan damai.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome To 2019

 hallo