Indonesia merupakan negeri yang kaya raya. Negeri yang kaya akan
budaya dan adat istiadatnya.Negeri ini tersusun dari berbagai macam perbedaan
yang bersatu padu menjadi satu. Perbedaan itu akan sangat terlihat indah
apabila rakyat selalu menanamkan rasa toleransi dan tenggang rasa dalam diri
mereka masing-masing. Namun harapan demi harapan yang terangkai indah di benak
para pembela nusantara untuk mengintegrasikan rakyat Indonesia terlihat sangat
sulit dicapai. Tanjakan-tanjakan terjal dan kerikil-kerikil tajam mulai
bermunculan mengganggu jalannya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Banyak manusia-manusia yang tidak menghargai perbedaan di negeri ini. Mereka
melakukan tindak kriminal dengan
mengatasnamakan agama sebagai senjata. Mereka berbondong-bondong untuk
mendirikan khilafah islamiyah di Nusantara. Mereka tidak peduli dengan nasib
para veteran dan para pejuang kemerdekaan. Bagi mereka Indonesia akan lebih
indah jika semua rakyatnya menganut satu agama, mereka hancurkan golongan-golongan
yang tidak sepaham dengan mereka. Mereka pikir hanya merekalah yang paling
benar, mereka pikir yang mereka lakukan
adalah dakwah fi sabilillah, mereka pikir yang mereka lakukan tidak pernah
salah. Orang-orang yang seperti itu telah terjerat paham radikalisme, paham
yang menutup mata hati mereka, paham yang menuntut mereka untuk menjadi manusia
yang apatis dan egois.
Di era zaman digital seperti saat ini paham-paham radikalisme akan
sangat mudah tersebar melalui sosial media. Orang-orang yang menganut paham ini
akan selalu gencar mencari mangsa empuk untuk dijadikan sasarannya. Untuk
menlanjutkan perjalanannya demi tercwujudnya
keinginan buta mereka. Sasaran-sasaran yang paling banyak
dicari oleh para penganut paham ini adalah kalangan para remaja, karena masa remaja adalah
masa pencarian jati diri yang memungkinkan para remaja ini mudah sekali
terpengaruh dengan bisikan-bisikan halus mereka.
Remaja yang tidak memiliki
landasan kuat dalam dirinya akan mudah terombang-ambing terbawa derasnya arus
kehidupan yang akan menghantarkannya pada ketersesatan. Namun sebaliknya,
remaja yang memiliki landasan kuat dalam dirinya tidak akan mudah goyah
walaupun tubuhnya digoncangkan sekalipun. Remaja yang memiliki akidah yang kuat
itulah remaja yang tidak akan mudah terbawa arus paham radikalisme.
baca juga: full day school memajukan atau menghancurkan?
baca juga: full day school memajukan atau menghancurkan?
Bagaimana cara membangun pondasi yang kuat untuk membentengi diri
dari paham radikalisme? Salah satu solusinya adalah memperdalam ilmu di pondok
pesantren. Ya... para remaja yang tidak mudah terombang-ambing arus tadi adalah
para santri. Santri-santri nusantara yang dibekali ilmu-ilmu al quran dan
hadist di pondok pesantren tercinta.
Santri itulah sebutan bagi mereka yang sedang mendalami ilmu di
pondok pesantren. Pondok pesantren tempat mereka belajar akidah islam, akhlak,
fikih, dan ilmu-ilmu lain yang dapat menjadi tameng bagi diri mereka dalam
menangkal paham-paham radikalisme yang merajalela di luar sana. Di pondok
pesantren para santri ini juga diajarkan bagaimana caranya menghargai orang
lain, menghormati yang lebih tua dan juga menyanyangi yang lebih muda, karena
mereka hidup bersama dalam satu lingkup asrama.
Dari situ mereka juga sudah dilatih untuk bisa hidup bermasyarakat,
dengan begitu secara tidak langsung
mereka telah diajarkan bagaimana caranya menghargai perbedaan yang ada di
sekitar mereka, mereka diajarkan agar selalu berbagi terhadap sesamanya dan
diajarkan untuk saling tolong menolong terhadap saudaranya. Dengan begitu
sangat jelas sekali bahwa kaum-kaum radikal dan para teroris tersebut pasti
tidak pernah mengenyam pendidikan yang bernama pondok pesantren. Karena di
pondok pesantren para santri diajarkan bagaimana caranya bersikap tidak egois
dan apatis terhadap sekelilingnya. Padahal para penganut paham radikalisme dan para
teroris sangat mencerminkan sikap apatis dan egois.
Kaum-kaum radikal dan para teroris adalah
orang-orang awam yang hanya bisa mengandalkan kekuatan teknologi untuk
mempelajari ilmu agama, mereka menafsirkan sendiri apa yang mereka pelajari
tanpa bantuan seorang guru, sehingga mereka mendapatkan pemahaman yang salah.
Pemahaman itu disebarluaskan di sosial media dan dibaca oleh orang-orang yang
juga masih awam. Akibatnya orang-orang yang masih awam tadi terpengaruh terhadap
pemahaman itu dan seterusnya menyebar keseluruh bumi nusantara.
Para
penganut paham radikalisme dan para teroris biasanya hanya memahami ayat-ayat
al quran secara setengah-setengah, mereka hanya memahami artinya secara sekilas
saja dan tidak mendalam dalam
mempelajarinya. Berbeda dengan
para santri yang mempelajari al quran beserta dengan terjemah dan tafsirnya.
Para santri sangat paham terhadap isi al quran dan tidak akan mudah menjudge
sesuatu dengan tanggapan negatif. Semisal, mudah mengkafir-kafirkan orang lain
yang tidak sepaham dengannya.
Penganut paham radikalisme dan para teroris
memiliki jalan pemikiran yang sempit dan terbatas. Ibaratnya mereka hanya
mengintip suatu pokok permasalahan hanya
melalui sebuah celah kecil yang jika permasalahan itu dilihat dari celah
tersebut terlihat sangat sempit berbeda dengan pemikiran orang-orang yang
sudah mendalami agama terkhusus para santri, mereka melihat suatu pokok
permasalah melalui lubang yang besar, pemikiran mereka luas dan mereka juga
tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
Seorang santri juga merupakan pribadi yang
supel dan sederhana, berbanding terbalik dengan kebanyakan sikap penganut paham
radikalisme dan para teroris yang cenderung tertutup dan tidak pandai bergaul.
Para santri terbiasa hidup bersama sehingga membentuk karakter mereka menjadi
manusia yang mudah berbaur di masyarakat. Di pandangan orang –orang yang tidak
pernah mengenyam pendidikan pesantren, santri adalah pribadi yang kuno, culun,
dan tidak intelektualis, namun itu adalah pandangan yang sangat salah.
Santri adalah agen gerakan perubahan yang
menggabungkan antara cinta agama dan tanah air tanpa harus menghancurkan
perdamaian beragama di Bumi Nusantara. Karena bagi santri cinta tanah air
adalah sebagian dari iman. Tanpa negeri yang damai umat islam tidak bisa
beribadah dengan tenang, tanpa negeri yang aman umat islam tidak bisa beribadah
dengan khusyuk, karena bagi santri perbedaan bukan suatu permasalahan yang
harus dimusnahkan, namun perbedan adalah suatu anugerah yang harus
dilestarikan, untuk membentuk Indonesia yang aman,tentram dan damai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar