Pendidikan merupakan media untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan
bertujuan untuk membangun tatanan bangsa yang berbalut dengan nilai-nilai
kepintaran, kepekaan, dan kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan
bernegara. Pendidikan dihadirkan demi menghantarkan bangsa ini menjadi bangsa
yang beradab dan berbudaya, dan pendidikan dilahirkan untuk memperbaiki
kebobrokan yang sudah menggumpal di segala sendi kehidupan bangsa ini.
Paparan diatas menunjukkan tujuan-tujuan utama dari pendidikan. Untuk
mewujudkan hal tersebut agar tidak sekedar isapan jempol belaka, dibutuhkan
kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan
tersebut. Tentunya pemerintah Indonesia telah membentuk kebijakan-kebijakan yang
ditujukan guna memperbaiki struktur pendidikan di Indonesia. Salah satunya
adalah kebijakan pemerintah tentang full day school bagi peserta didik baik di
jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas.
Tentunya pemerintah telah mempertimbangkan keputusan tersebut
dengan matang-matang, mulai dari sisi positif hingga sisi negatifnya.
Jika dilihat dari sisi positif mungkin
jumlah tatap muka di sekolah jauh lebih banyak sehingga materi yang diberikan
dapat terselesaikan sesuai target yang ditentukan dalam satuan semester, selain
itu peserta didik juga akan lebih banyak memiliki waktu weekend bersama
keluarga. Namun tak ada gading yang tak retak, dibalik sisi positif yang ada pasti ada pula sisi negatif yang ditimbulkan.
Salah satunya yaitu peserta didik akan mengalami kelelahan selama di sekolah,
akibatnya mereka tidak dapat berfikir dengan fokus apalagi ketika hari sudah
semakin sore.
Sekolah saya sebelumnya memang belum menerapkan sistem full day
school, namun saya dapat merasakan apa
yang dirasakan peserta didik yang sekolahnya menerapkan sistem full day school.
Dikarenakan ketika menginjak bangku akhir masa SMA saya merasakan yang namanya
tambahan pelajaran untuk ujian nasional. Pembelajaran dimulai dari pukul 07.00 hingga pukul 16.00. Selama sembilan jam otak kita dipaksa untuk
berfikir dan memahami materi pelajaran. Akibatnya badan dan otak akan merasa lelah sehingga konsentrasi belajar akan
menurun. Begitu pula dengan guru yang mengajar di depan kelas, beliau juga akan
merasakan hal yang sama ditambah lagi dengan antusias peserta didik yang
semakin berkurang. Hal ini akan menyebabkan kurang kondusifnya kegiatan belajar
mengajar di sekolah yang dilaksanakan secara full day.
Selain fakta-fakta di atas yang menyebabkan kurangnya suasana
kondusif dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, peserta didik juga akan
kekurangan waktunya untuk bersosialisai, berorganisasi dan mengekspresikan
bakat dan minat yang mereka punya melalui organisasi dan ekstrakulikuler di luar kelas. Suasana persaingan yang terasa di ruang kelas akan
membentuk pribadi peserta didik menjadi manusia yang egois dan memikirkan
kepentingan diri sendiri yang sangat berbanding terbalik dengan organisasi di
luar kelas yang mengajarkan peserta didik untuk mementingkan kepentingan
bersama dibandingkan kepentingan pribadi.
Sebelum diterapkannya program full day school di sekolah-sekolah
umum, sepulang sekolah lapangan, ruang-ruang organisasi dan ruang
ekstrakulikuler penuh dengan peserta didik yang sedang bersosialisasi baik
dengan kawan sebaya, adek kelas maupun kakak kelasnya guna mengembangkan bakat
dan minatnya di bidang mereka masing-masing. Ada yang menekuni bidang olahraga,
bidang kesenian dan bidang yang berbau kerohanian agama. Bahkan halaman depan
sekolah juga dipenuhi dengan orang-orang yang sedang bergerombol untuk
berdiskusi untuk memecahkan suatu permasalahan.
Hal ini yang perlu digaris
bawahi bahwa fulldays school mengurangi ruang peserta peserta didik
dalam mengembangkan potensinya. Karena sejatinya pendidikan tidak melulu
hanya memberikan materi di ruang kelas saja, namun pembelajaran di luar kelas
seperti bersosialisasi, berorganisasi mengembangkan bakat sesuai bidang juga
merupakan pendidikan yang tidak kalah penting.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar